ARTIKEL BIMBINGAN KONSELING (5)
PENYELENGGARAAN
BIMBINGAN KONSELING DI
SEKOLAH DASAR
Indawati
Prodi Tadris Bahasa
Inggris, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Palopo
Email:
IndahPisces01@gmail.com
Abstract:
This
paper is the result of a qualitative descriptive study that aims to find out
empirical evidence about the implementation of guidance and counseling at
Bakung 1 Elementary School in Bandar Lampung. The results of the study show
that the implementation of guidance and counseling refers to the results of
understanding of students. The strategies applied by classroom teachers consist
of integrating guidance and counseling material into the subject matter,
choosing the right method and media, remedial, building empathic communication,
setting an example, appreciating and strengthening, identifying and choosing
assistance programs, and transfer of hands. Class teacher competence still
needs to be improved so that the implementation of guidance and counseling in
Elementary Schools can be programmed well.
Keyword
:
Guidance and Counseling, Elementary School, Students
Abstrak
:
Tulisan ini merupakan hasil penelitian kualitatif deskriptif yang bertujuan
untuk mengetahui bukti empiris tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling di
Sekolah Dasar Negeri 1 Bakung Bandar Lampung. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pelaksanaan bimbingan dan konseling mengacu pada hasil pemahaman terhadap
peserta didik. Strategi yang diterapkan guru kelas terdiri atas
mengintegrasikan materi bimbingan dan konseling ke dalam materi pelajaran, memilih
metode dan media yang tepat, remedial, membangun komunikasi empati, memberikan
teladan, memberi apresiasi dan penguatan, mengidentifikasi dan memilih program
bantuan, dan alih tangan. Kompetensi guru kelas masih perlu ditingkatkan agar
pelaksanaan bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar dapat terprogram dengan
baik.
Kata
Kunci : Bimbingan dan Konseling, Sekolah Dasar, Peserta
Didik
PENDAHULUAN
Pendidikan di
Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) memiliki kedudukan yang sangat
penting dalam memastikan perkembangan biologis, kepribadian, pengetahuan, dan
keterampilan peserta didik berjalan sesuai dengan tahap perkembangannya
sehingga mereka siap menjadi calon anggota masyarakat yang akan mengisi dan
melanjutkan cita-cita perjuangan bangsa serta mampu menghadapi permasalahan
yang lebih rumit pada jenjang pendidikan selanjutnya. Dalam hal ini,
penyelenggaraan pendidikan bertujuan untuk membantu peserta didik dalam
mencapaiperkembangan yang optimal, baik dari sisi akademik maupun kepribadian.
Pelaksanaan
bimbingan dan konseling sangat diperlukan di sekolah dasar, karena dalam
praktiknya tidak sedikit diantara peserta didik yang mengikuti proses belajar
mengajar menghadapi masalah yang berasal dari dirinya sendiri dan lingkungan
sekitarnya.
Menurut Farozin,
setiap Sekolah Dasar idealnya harus memiliki seorang guru bimbingan dan
konseling atau konselor. Dengan begitu, guru bimbingan dan konseling atau
konselor tersebut dapat bekerjasama dengan guru kelas dan guru mata pelajaran
dalam membantu peserta didik mencapai perkembangan optimal. Namun, pada kondisi
belum tersedianya guru bimbingan dan konseling atau konselor di Sekolah Dasar
maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling dapat ditugaskan pada guru kelas
terlatih atau kompeten (Farozin et al., 2016). Sebagaimana profesi guru, guru
bimbingan dan konseling atau konselor juga harus memiliki kompetensi
sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor
27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor.
Kompetensi tersebut meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial dan kompetensi profesional (Farozin et al., 2016).
METODE
Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif jenis deskriptif untuk memperoleh gambaran mengenai
pelaksanaan program bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar Negeri 1 Bakung
Bandar Lampung dari aspek profil guru pelaksana bimbingan konseling, teknik
pemahaman peserta didik, dan pelaksanaan program layanan bimbingan dan
konseling.
Sumber data
penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Sumber data primer
yang dipilih dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru kelas dan tenaga
kependidikan, dan peserta didik Sekolah Dasar Negeri 1 Bakung Bandar Lampung.
HASIL
Profil Sekolah Dasar Negeri 1 Bakung Bandar Lampung
Sekolah Dasar
Negeri (SDN) Sungai Miai 5 didirikan pada Tahun 1981, memiliki Nomor Pokok
Sekolah Nasional 10807321. Sekolah Dasar Negeri 1 Bakung Bandar Lampung
merupakan sekolah piloting penyelenggara pendidikan inklusi yang beralamat di
Jalan Banten No 1 Bakung Kecamatan Teluk Betung Barat Kota Bandar Lampung
Provinsi Lampung.
Berdasarkan data tahun
akademik 2017/2018, Sekolah Dasar Negeri
1 Bakung Bandar Lampung memiliki 40 orang guru dan tenaga pendidik yang terdiri
dari 16 orang guru berstatus PNS, 20 orang guru pendamping ABK, dan dua orang
satpam, satu operator, dan satu Pustakawan. Adapun jumlah peserta didik Sekolah
Dasar Negeri 1 Bakung Bandar Lampung adalah 416 peserta didik yang dibagi ke
dalam 12 kelas. Dari jumlah peserta didik tersebut, terdapat 386 peserta didik
normal dan 30 peserta didik berkebutuhan khusus dengan jenis ketunaan yang
paling banyak adalah kesulitan belajar/lambat belajar, ADHD, dan CIBI (Dokumen
Sekolah, Oktober 2017).
Sekolah Dasar
Negeri 1 Bakung Bandar Lampung dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar
ditunjang oleh sarana dan prasarana yang memadai, seperti 1 Ruang Kepala
Sekolah (Sangat Baik), 1 Ruang Dewan Guru (Sangat Baik), 12 Ruang Kelas (Baik),
1 Ruang UKS (Baik), 1 Lapangan Olahraga (Baik), 3 WC Guru (Baik), 4 Rumah dinas
(Rusak Ringan) 1 set alat Praktek IPA (Baik), WC Murid 6 Baik, 1 Gudang (Rusak
Ringan), 1 Musholla (Sangat Baik), 1 Koperasi/kantin kejujuran(Baik), 1 Ruang
Kepramukaan (Baik), 1 Panggung Pentas (Sangat Baik), 1 Ruang alat musik (Rusak
Ringan), dan 1 Perpustakaan (Baik) .
Sarana dan
prasarana anak berkebutuhan khusus di Sekolah Dasar Negeri 1 Bakung Bandar
Lampung untuk ruang terapi khusus belum tersedia, alat bantu pembelajaran yang
tersedia belum lengkap. Alat bantu belajar yang tersedia antara lain: kartu
bilangan, kartu huruf, buku bergambar, puzzle, dan balok. Pelaksanaan program
bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar Negeri 1 Bakung Bandar Lampung
ditugaskan kepada guru kelas. Sebagian besar guru kelas tersebut adalah
berlatar belakang pendidikan S1 PGSD. Hasil wawancara penulis menunjukkan bahwa
mereka belum pernah mengikuti pelatihan tentang implementasi Bimbingan dan
Konseling di Sekolah. Oleh karena itu, mereka melaksanakan program bimbingan
dan konseling lebih terkait dengan tugas mereka sebagai seorang pendidik
dibanding seorang konselor.
Diantara guru
kelas, terdapat guru kelas 1 yang berlatar belakang pendidikan S1 Bimbingan dan
Konseling. Guru tersebut dianggap sebagai guru yang mampu mengatasi masalah
peserta didik sehingga ketika guru kelas kewalahan mengahadapi permasalahan
peserta didik, maka guru kelas biasanya akan meminta bantuan kepada guru kelas
1 tersebut, disamping bekerjasama dengan kepala sekolah, guru pendamping ABK, dan
orangtua peserta didik.
Teknik
Guru dalam Memahami Peserta didik
Adapun teknik
yang digunakan guru dalam mengidentifikasi dan memahami kebutuhan peserta didik
di Sekolah Dasar Negeri 1 Bakung Bandar Lampung adalah tes, observasi, dan
wawancara. Pertama, tes digunakan guru untuk mengidentifikasi dan memetakan
kesulitan belajar sisiwa serta untuk mengetahui tingkat perkembangan kognitif
dan psikomotorik peserta didik. Bentuk tes yang digunakan terdiri dari tes
tertulis dan lisan yang dikembangkan berdasarkan kompetensi dasar setiap muatan
mata pelajaran. Adapun jadwal pemberian tes kepada peserta didik terdiri dari:
(1) penilaian harian, yaitu penilaian yang dilaksanakan minimal satu kali dalam
satu tema untuk setiap muatan pelajaran, (2) penilaian tengah semester, yaitu
penilaian yang dilaksanakan setelah menyelesaikan separuh dari jumlah tema
dalam satu semester atau setelah 8-9 minggu belajar efektif, dan (3) penilaian
akhir semester (PAS) dan penilaian akhir tahun (PAT), yaitu penilaian yang
dilaksanakan setelah menyelesaikan seluruh tema dalam satu semester belajar
efektif.
Adapun
permasalahan yang menjadi perhatian guru dalam bidang penilaian adalah terkait
dengan teknik memberikan nilai bagi peserta didik ABK agar tidak terjadi
kecemburuan antara peserta didik yang normal dan peserta didik ABK, dan
kehadiran peserta didik ABK tidak menghambat pencapaian prestasi sekolah. Para
guru mengungkapkan bahwa mereka memerlukan sebuah panduan khusus mengenai
teknik penilaian peserta didik ABK di sekolah inklusi.
Kedua, teknik
observasi digunakan guru untuk mengamati perilaku peserta didik selama di
sekolah, khususnya selama proses pembelajaran berlangsung. Guru mengamati
setiap gerak gerik peserta didik pada saat proses pembelajaran berlangsyng dan
menggunakan lembar penilaian guru untuk mencatat perilaku-perilaku peserta
didik yang dianggap menonjol, yakni perilaku yang sangat baik dan perlu
bimbingan.
Aspek-aspek
sikap yang diamati guru mengacu pada Kompetensi Inti 1 dan 2 yang termuat dalam
kurikulum 2013, yaitu perkembangan sikap spiritual dan sosial peserta didik.
Contoh sikap spiritual yang dinilai terdiri dari sikap ketaatan beribadah,
berperilaku syukur, berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, dan
toleransi dalam beribadah. Sedangkan contoh sikap sosial yang dinilai adalah
perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri.
Hasil pengamatan guru selama di sekolah biasanya disampaikan dalam rapat dewan
guru dan rapat pertemuan dengan orangtua peserta didik dalam rangka menemukan
solusi terbaik dari pemecahan masalah yang dihadapi oleh peserta didik.
Ketiga, teknik
wawancara biasanya digunakan guru untuk mendalami penyebab masalah yang
dihadapi peserta didik. Hasil wawancara dengan guru menunjukkan bahwa masalah
umum yang dihadapi peserta didik sekolah dasar adalah terkait dengan kesulitan
belajar dan beradapsi dengan teman sekelasnya. Untuk mengatasi masalah
tersebut, guru memulai wawancara dengan sapaan-sapaan hangat, kemudian
dilanjutkan dengan tanya jawab seputar aktivitas seharihari peserta didik di
lingkungan keluarga, teman sebaya, dan di sekolah. Disamping itu, guru juga
melakukan wawancara pendek pada saat proses pembelajaran berlangsung dengan
mengajukan pertanyaan umum kepada pelajar untuk mendapatkan umpan balik.
Pelaksanaan
Program Bimbingan dan Konseling
Pelaksanaan
bimbingan dan konseling yang dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 1 Bakung
Bandar Lampung terdiri atas layanan langsung dan tidak langsung. Layanan
langsung dilakukan guru secara terintegrasi dengan proses pembelajaran dan pada
kasus-kasus tertentu diberikan pada jam istirahat dan melalui kegiatan
ekstrakurikuler, seperti membaca asmaul husna, shalat berjama’ah, olahraga, dan
bermain. Di antara materi yang disampaikan kepada peserta didik adalah menjaga
kebersihan diri dan pakaian, berdoa, suka menolong, jujur, dan bersikap sopan
santun.
Contoh praktik
bimbingan dan konseling yang dilakukan guru, antara lain mengajak peserta didik
membaca Al Quran, merenungkan kasih sayang orangtua terhadapnya, menunjukkan
akibat dari perbuatan buruknya, memberikan sanksi atas perbuatan negatif yang
dilakukannya, dan mendorong peserta didik untuk membaca buku cerita di pojok
baca dan gerobak baca pada jam istirahat.
Adapun
pelaksanaan bimbingan dan konseling secara tidak langsung dilaksanakan melalui
kegiatan pengembangan diri dan pembiasaan, seperti mengucapkan salam, kegiatan
pramuka, olahraga, pameran karya peserta didik, dan sholat zuhur berjamaah di
Musholla sekolah. Disamping itu, sekolah juga menyediakan berbagai sumber
belajar yang mendukung pertumbuhan sikap positif pada diri peserta didik,
seperti papan nasihat, pojok baca dan gerobak buku yang menyediakan bukubuku
cerita dan untuk meningkatkan minat baca peserta didik.
Adapun strategi
yang dilakukan guru kelas dalam melaksanakan bimbingan dan konseling di Sekolah
Dasar Negeri 1 Bakung Bandar Lampung. Pertama, guru kelas memadukan materi
bimbingan dan konseling ke dalam materi pembelajaran yang sesuai. Misalnya,
materi bahasa Indonesia digunakan untuk menumbuhkan karakter santun dalam
berkomunikasi dan suka membaca, materi pendidikan kewarganegaraan digunakan
untuk menumbuhkan sikap cinta pada tanah air, materi matematika digunakan untuk
menumbuhkan karakter teliti, kritis, dan jujur dalam berbuat, materi Ilmu
Pengetahuan Sosial digunakan untuk menumbuhkan sikap peduli, empati, suka
menolong, dan bertanggung jawab, dan materi
Ilmu Pengetahuan Alam digunakan untuk menumbuhkan sikap cinta pada lingkungan
dan ekosistem alam, materi Agama digunakan untuk menumbuhkan karakter taat
terhadap aturan agama, dan cinta terhadap Tuhan Alam Semesta.
Memilih metode
dan media pembelajaran yang sesuai dan mendukung kemandirian peserta didik
dalam belajar. Metode yang digunakan adalah metode yang merangsang pikiran dan
psikomotorik peserta didik, seperti metode saintifik, inkuiri, dan discovery.
Adapun media pembelajaran digunakan untuk menarik minat peserta didik dalam
belajar dan membantu mereka dalam memahami materi yang bersifat abstrak atau
jauh dari kehidupannya. Misalnya, materi tentang prilaku terpuji, organ tubuh
manusia, sistem tata surya, dan lainnya.
Hasil pemahaman
guru terhadap peserta didik ditindaklanjuti dalam bentuk kegiatan remedial.
Kegiatan remedial ini bertujuan untuk memfasilitasi peserta didik dalam
memecahkan masalah yang diahadapinya atau mencapai hasil belajar yang optimal.
Metode yang digunakan guru dalam kegiatan remedial cukup bervariasi dan mengacu
pada sifat, jenis, dan latar belakang permasalahan yang dialami peserta didik.
Jika permasalahan yang dihadapi peserta didik adalah sama maka bimbingan
diberikan secara berkelompok dan jika permasalahan yang dihadapi peserta
didikadalah berbeda maka kegiatan bimbingan diberikan secara individual di luar
jam pelajaran. Biasanya bimbingan diberikan guru melalui tugas-tugas latihan,
tanya jawab, dan pemecahan masalah.
Membangun
komunikasi yang empatik dan personal dengan peserta didik. Guru mendorong
peserta didik untuk ramah dan memberikan salam sapa saat bertemu dengan guru
dan orang lain. Komunikasi empatik tersebut dibangun guru melalui perilaku
menyapa, memberi salam, tersenyum, berbicara dengan ekspresi yang dirasakan,
mendengarkan peserta didik dengan antusias, mengucapkan terima kasih, meminta
ijin sebelum mengambil barang, dan meminta maaf apabila salah. Hal ini
bertujuan untuk membangun keterampilan sosial, empati, dan keberanian peserta
didik dalam menjalin komunikasi dengan guru dan peserta didik lain yang berbeda
dengan dirinya.
Mengidentifikasi
dan memilih alternatif bantuan yang mungkin diberikan kepada peserta didik.
Kegiatan ini dilakukan melalui penyelidikan penyebab masalah. Dalam pelaksanaan
kegiatan ini, guru bekerjasama dengan guru pendamping ABK, orangtua peserta
didik, kepala sekolah, dan guru lain untuk mendapatkan berbagai jenis bantuan
yang munkin diterapkan untuk mengatasi permasalahan peserta didik
tersebut.
Melakukan alih
tangan untuk penyelesaian masalah peserta didik. Alih tangan tersebut biasanya
dilakukan guru ketika inti permasalahan peserta didik di luar wewenangnya atau
guru ingin memindahkan penanganan kasus tersebut ke pihak yang lebih prfesional
agar kasus peserta didik tersebut dapat diselesaikan dengan tepat dan tuntas.
Misalnya, meminta bantuan kepala sekolah, guru senior, psikolog, dan
lainnya.
Dalam
pelaksanaan program bimbingan dan konseling, guru kelas mengakui belum memiliki
rencana yang terprogram. Biasanya kegiatan bimbingan diberikan berdasarkan
hasil pemahaman terhadap peserta didik yang memiliki kesulitan belajar. Dalam
hal ini, pendekatan bimbingan yang diberikan guru lebih tertuju pada pendekatan
remedia disbanding pendekatanpendekatan lain. Kepala Sekolah Dasar Negeri 1
Bakung Bandar Lampung juga turut merasakan kebutuhan sekolahnya terhadap guru
bimbingan dan konseling. Oleh karena itu, kepala sekolah mengungkapkan bahwa
sekolah telah memiliki rencana untuk mengangkat guru Bimbingan dan Konseling
dari tenaga honorer untuk meningkatkan pelayanan bimbingan dan konseling di
Sekolah Dasar Negeri 1 Bakung Bandar Lampung.
KESIMPULAN
Berdasarkan
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan
bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar Negeri 1 Bakung Bandar Lampung
dilaksanakan berdasarkan hasil pemahaman terhadap peserta didik. Teknik yang
dilakukan guru dalam memahami peserta didik adalah melalui tes, observasi, dan
wawancara. Penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar Negeri 1
Bakung Bandar Lampung telah dilaksanakan secara terintegrasi dengan proses
pembelajaran. Pendekatan yang sering digunakan guru adalah pendekatan remedial
dan perkembangan. Adapun strategi guru kelas dalam melaksanakan bimbingan dan
konseling, yaitu (a) memadukan materi BK dengan materi pelajaran, (b) memilih
metode dan media pembelajaran yang sesuai, (c) melaksanaksanakan remedial, (d)
membangun komunikasi empatik dengan peserta didik, (e) memberikan teladan, (f)
memberikan apresiasi dan penguatan terhadap perilaku peserta didik yang
positif, (g) bekerjasama dengan berbagai pihak dalam mengidentifikasi dan
memilih beberbagai alternatif bantuan yang dapat diberikan kepada peserta
didik, dan h) melakukan alih tangan. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa
pelaksanaan bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar Negeri 1 Bakung Bandar
Lampung belum terprogram dengan baik. Sebab, sebagian guru belum memahami
pelaksanaan bimbingan dan konseling sekolah. Oleh karena itu, guru disarankan
mengikuti pelatihan untuk meningkatkan wawasan mereka dalam memberikan layanan
bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar.
DAFTAR
PUSTAKA
Farozin,
M., Suherman, U., Triyono,
Kompetensi
Konselor di Sekolah Dasar Swasta Kota
Semarang. Indonesian
Journal
of Guidance and Counseling : Theory and Application, 3(2), 37–39.
Retrieved
from https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jbk/article/view/3764.
Komentar
Posting Komentar