ARTIKEL BIMBINGAN KONSELING (3)
DALAM
PEMBELAJARAN
Oleh : Akbar Harun
Program
Studi Pendidikan Bahasa Inggris
FTIK
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo
Dosen
Pembimbing: Dr.Rustan S,M.Hum.
Abstract
This research on the background of the background of the
implementation of character education lessons in SLB Negeri 2 Padang. The
purpose of this study to obtain a picture of the implementation of character
education at School 2 Padang Sarai SLB relating to the policies and
administration of the school to provide support for the teaching and learning
process that contains values such as character, school environment, teachers
are able to apply knowledge of PBM which have values of character, competence of
teachers in character education, curriculum used, assessment and community
support for the implementation of character education.
The methodology of this research is descriptive quantitative
approach. From the results of the study indicated that the majority of school
personnel have not run in the teaching of character education in the State SLB
2 Padang
Kata Kunci; Pelaksanaan
pendidikan karakter.
PENDAHULUAN
Dalam Undang-undang (UU)
No.20, tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 dinyatakan bahwa
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. Sehingga nanatinya mampu menjadi anak bangsa yang membanggakan. Sebab
anak merupakan dambaan bagi setiap orang tua dan anak adalah bagian dari
generasi sebagai salah satu dari sumber daya manusia yang merupakan potensi dan
penerus cita-cita perjuangan bangsa.
Sehubungan dengan
ketetapan UUD dan UU tentang Sisdiknas serta tujuan pendidikan nasional yang
telah di tetapkan oleh pemerintah bahwa pendidikan di masa yang akan datang ini
harus memiliki mutu dan berkualitas dibanding dengan pelaksanaan pendidikan
yang telah berlangsung saat sekarang ini. Maka dari pada itu perlu ditegaskan
bahwa Keputusan Presiden RI No 1 Tahun 2010 setiap jenjang pendidikan di
Indonesia harus melaksanakan pendidikan karakter.
Dalam pendidikan karakter
Muslich Masnur (2011:75) Lickona (1992) “menekankan pentingnya tiga komponen
karakter yang baik (componentsofgoodcharacter),
yaitu moral knowing atau pengetahuan
tentang moral, moral feeling atau
perasaan tentang moral, dan moral action
atau perbuatan moral”. Hal ini diperlukan agar anak mampu memahami, merasakan
dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebijakan. Pendidikan karakter adalah
pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan
(cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Lickona Thomas,
tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif.
Pendidikan karakter
adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang
meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk
melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME),
diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia
insan kamil.
Berdasarkan studi
pendahuluan yang dilakukan peneliti di SLB Negeri 2 Padang dalam bentuk
observasi dan wawancara dengan guru dan kepala sekolah di SLB Negeri 2 Padang
tentang pelaksanakan pendidikan karakter, maka diperoleh pengakuan bahwa di
sekolah SLB Negeri 2 sudah terjadi kemerosotan nilai- nilai moral seperti,
belum terwujudnya kesopanan, disiplin, tanggung jawab dan rasa kepedulian antar
peserta didik dan peserta didik dengan guru.
Semua itu terlihat saat peneliti melakukan observasi dan wawancara di
SLB Negeri
2 Padang, pada saat wawancara dengan salah
satu guru yang mengajar di SLB Negeri 2 Padang, guru tersebut mengakui bahwa
niali kesopanan dan kereligiusan peserta didik sudah berkurang karna guru
pernah mendapatkan bukti ada peserta didik yang menyimpan vidio yang tidak
sopan di handphonenya, bahkan guru melihat peserta didik tersebut menyaksikan
vidio itu bersama-sama di sebuah ruang kelas. Untuk itu perlu dicarikan
solusinya, salah satu cara untuk mengatasi permasalahan itu adalah
menyelenggarakan pendidikan nilai dan karakter yang terintegrasi dalam
tiap-tiap mata pelajaran.
Hal ini harus dibuktikan
oleh SLB Negeri 2 Padang dengan adanya kebijakan sekolah, melahirkan dukungan
administrasi sekolah diantaranya adalah mempunyai visi dan misi sekolah tentang
pendidkan karakter, tenaga pendidik yang berkopetensi, mempunyai perangkat
pembelajaran mulai dari silabus, RPP, bahan ajar, evaluasi dan penilaian
terhadap proses pembelajaran pendidikan karakter. peneliti mendapat pengakuan
dari beberapa guru di SLB Negeri 2 Padang bahwa masih minimnya pengetahuan
guru-guru tentang konsep pendidikan karakter dan pelaksanaan pendidikan
karakter. Ini disebabkan oleh belum meratanya penyuluhan, seminar pendidikan
karakter dan pelatihan-pelatihan yang didapatkan oleh guru reguler tentang
pelaksanaan pembelajaran pendidikan karakter.
Dari segi kurikulum dan
cara penilaian yang dilakukan oleh SLB Negeri 2 Padang, sebagai rintisan
sekolah yang telah menjalankan pembelajaaran pendidikan karakter, sejak tahun
ajaran 2010/2011 lalu sekolah menggunakan kurikulum KTSP sebagai pedoman pelaksanaan
pembelajaran dan cara penilaian hasil belajar peserta didiknya masih tergantung
kepada kemampuan akademik dan vokasional masing-masing peserta didik, dan belum
memperhatikan perbuatan atau sikap yang dilakukan anak dalam sehari-hari dan
guru-guru juga belum memberi nilai khusus terhadap karakter peserta didik itu
sendiri.
Pelaksanaan pembelajaran
pendidikan karakter yang dituntut oleh Lickona Thomas (1992:54) yaitu
“mempunyai dasar kurikulum yang mengandung nilai-nilai karakter dan
terintegrasi dalam mata pelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didik
nantinya”. Begitu juga dengan cara penilaian yang digunakan dalam pelaksanaan
pendidikan karakter ini, yang mana
penilaian yang harus dilakukan dengan mencantumkan nilai-nilai karakter yang
telah tercapai oleh peserta didik baik dalam proses pembelajaran maupun
dilingkungan sekitarnya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana
pelaksanaan pendidikan karakter dalam pembelajaran di SLB Negeri 2 Padang.
KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER
Menurut Thomas Lickona
(1992) dalam Masnur Muslich (2011:29) tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan
karakter tidak akan efektif. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman
nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan,
kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut,
baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan,
maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.
Dalam pendidikan karakter
di sekolah, semua komponen (stakeholders)
harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi
kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan
atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas,
pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga dan
lingkungan sekolah.
PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER DI DALAM PEMBELAJARAN
Menurut Tarmansyah, dkk.
(2012:15) Dalam pendidikan karakter yang
diintegrasikan didalam mata
pelajaran, ada hal-hal yang perlu diperhatikan seperti:
a.
Kebijakan sekolah dan dukungan
administrasi sekolah terhadap pendidikan karakter yang meliputi: Visi dan misi
pendidikan karakter, sosialisasi, dokumen pendidikan karakter dll.
b.
Kondisi lingkungan sekolah
meliputi: sarana dan prasarana yang mendukung, lingkungan yang bersih, kantin
kejujuran, ruang keagamaan dll.
c.
Pengetahuan dan sikap guru yang
meliputi: konsep pendidikan karakter, cara membuat perencanaan pembelajaran,
perangkat pembelajaran, kurikulum, silabus, RPP, bahan ajar, penilaian,
pelaksanaan pendidikan karakter terintegrasi dalam mata pelajaran dll.
d.
Peningkatan kompetensi guru.
e.
Dukungan masyarakat.
METODE PENELITIAN
Metodologi dalam
penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik
pengambilan sampel adalah purposive sampling dengan jumlah sampel 27 orang guru
yang mengajar dan para personil sekolah lainnya. Teknik pengumpulan data
disebarkan melalui angket yang menggunakan skala guttman dengan alternative
jawaban ada, tidak ada, ya, tidak. Jumlah item keseluruhan sebanyak 50 buah
item yang berkenaan dengan bagaimana pelaksanaan pendidikan karakter di SLB
Negeri 2 Padang Sarai. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan rumus
statistik persentase.
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan kepada semua
guru-guru yang mengajar di SLB Negeri 2 Padang, dengan jumlah sampel sebanyak
27 orang guru. Adapun gambaran umum objek penelitian tersebut berdasarkan salah
satu sekolah luar biasa yang telah melaksanakan pembelajaran pendidikan
karakter pada anak ABK, yaitu SLB Negeri 2 Padang.
Adapun karakteristik
responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
|
No
|
Jenis Kelamin
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1
|
Laki-laki
|
6
|
22,3
|
|
2
|
Perempuan
|
21
|
77,7
|
|
|
Jumlah
|
27
|
100
|
Sumber: Hasil Pengolahan
Data Primer, 2012
Berdasarkan data pada Tabel 1 di atas,
terlihat bahwa ada sebanyak 6 orang (22,3%) responden berjenis kelamin
laki-laki dan ada sebanyak 21 orang
(77,7%) responden berjenis kelamin perempuan.
Untuk melihat bagaimana
pelaksanaan pembelajaran pendidikan karakter di SLB Negeri 2 Padang, dilihat
dari 7 aspek yaitu:
1.
Kebijakan dan dukungan
administrasi sekolah terhadap pelaksanaan
pendidikan karakter.
2.
Kondisi lingkungan sekolah dalam
mendukung pelaksanaan pendidikan karakter.
3.
Pengetahuan guru tentang pelaksanaan
pendidikan karakter.
4.
Peningkatan kompetensi guru dalam
melaksanakan pembelajaran pendidikan karakter.
5.
Isi kurikulum yang digunakan
sekolah.
6.
Cara penilaian yang digunakan
sekolah.
7.
Dukungan masyrakat tentang
pelaksanaan pembelajaran pendidikan karakter.
Adapun hasil temuan
penelitian dilapangan untuk masing-masing aspek adalah sebagai berikut:
Tabel 2
Kebijakan dan dukungan
administrasi sekolah terhadap pelaksanaan pendidikan karakter dalam
pembelajaran di SLB Negeri 2 Padang.
|
Pernyataan
|
Alternatif jawaban
|
|||
|
ADA
|
TIDAK ADA
|
|||
|
F
|
%
|
F
|
%
|
|
|
1.
Memiliki visi atau misi tentang
pendidikan karakter.
2.
Melaksanakan sosialisasi secara
terus menerus kepada orang tua yang menekankan bahwa anakanak harus
dikembangkan pendidikan karakter desekolah maupun dirumah.
3.
Memiliki data atau dokumen
penting mengenai pendidikan karakter untuk pembelajaran anak disekolah.
|
9
11
12
|
33,4
40,7
44,5
|
18
16
15
|
66,6
59,3
55,5
|
|
4.
Menunjukkan dengan cara khusus
bahwa pengelola sekolah dan guru memahami sifat dan kepentingan pendidikan
karakter.
5.
Memiliki data daftar hambatan
yang di alami sekolah untuk mengembangkan pembelajaran pendidikan karakter
pada ABK dan cara mengatasi hambatan tersebut.
6.
Menyadari dan mengubah kebijakan
sekolah dan pelaksanaannya dalam hal biaya dan jadwal harian dalam memperoleh
pendidikan yang berkualitas.
7.
Memberikan keleluasan kepada
guru untuk menggunakan metode pembelajaran yang kreatif, inovatif dalam
membantu anak belajar
8.
Mempunyai hubungan dengan
masyarakat, dan memberikan kesempatan untuk bertukar gagasan dengan
masyarakat untuk terciptanya perubahan positif dalam menerapkan pendidikan
karakter.
9.
Merespon kebutuhan staf
10. Memiliki mekanisme pendukung, supervisi dan monitoring yang efektif
bagi setiap orang agar dapat berpartisipasi dan mendokumentasikan
|
12
6
7
15
12
11
10
|
44,5
22,3
25,9
55,5
44,5
40,7
37
|
15
21
20
12
15
16
17
|
55,5
77,7
74,1
44,5
55,5
59,3
63
|
Tabel 3
Kondisi lingkungan sekolah
dalam mendukung pendidikan karakter.
|
Pernyataan
|
Alternatif jawaban
|
|||
|
ADA
|
TIDAK ADA
|
|||
|
F
|
%
|
F
|
%
|
|
|
1.
Memiliki fasilitas yang memenuhi
kebutuhan peserta didik untuk mengembangkan pendidikan karakter seperti
tempat berwuduk dan mushalla.
2.
Memiliki lingkungan yang bersih,
sehat dan terbuka
3.
Mempunyai kantin kejujuran.
4.
Mempunyai staf, seperti guru
agama demi pencapaian nilai-nilai kereligiusan peserta didik.
5.
Memiliki tata cara dan prosedur
yang sesuai untuk membantu para guru, staf pengajar, orang tua dan anak untuk
bekerja sama dalam mengembangkan pendidikan karakter.
6.
Memfokuskan pada kerja tim
|
16
16 3
15
15
10
|
59,3
59,3
11,2
55,5
55,5
37
|
11
11
24
12
12
17
|
40,7
40,7
88,8
44,5
44,5
63
|
Tabel 4
Pengetahuan guru tentang
pelaksanaan pembelajaran pendidikan karakter.
|
Pernyataan
|
Alternatif jawaban
|
|||
|
Ya
|
Tidak
|
|||
|
F
|
%
|
F
|
%
|
|
|
1.
Dapat menjelaskan makna
pendidikan karakter dan menerapkan pembelajaran pendidikan karakter di SLB
2.
Mengetahui cara-cara membuat
perencanaan pembelajaran yang berwawasan pendidikan karakter.
3.
Terlibat dalam pembuatan
perangkat pembelajaran yang berwawasan pendidikan karakter.
4.
Mengetahui tentang cara membuat
silabus dan RPP yang berwawasan pendidikan karakter.
5.
Terlibat dalam pembuatan silabus
dan RPP yang berwawasan pendidikan karakter.
6.
Mempunyai bahan ajar yang
membantu pembelajaran pendidikan karakter.
7.
Mengetahui tata cara pelaksanaan
pembelajaran pendidikan karakter
8.
Membuat tiga tahap dalam
kegiatan inti yaitu eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi
9.
Dapat menjelaskan komponen dalam
pendidikan karakter
10. Mengetahui aspek-aspek nilai yang terkandung dalam pendidikan
karakter
11. Mengetahui tujuan pembelajaran pendidikan karakter
12. Mengadaptasi kurikulum pembelajaran dan aktivitas sekolah terhadap
kebutuhan peserta didik.
13. Mampu memodifikasi pembelajaran anak dalam berbagai cara agar patut
dan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak serta menunjukkan nilai
karakter.
14. Merefleksi dan terbuka terhadap pembelajaran dan perubahan.
15. Mampu bekerja sama dalam tim
|
10
13
11
14
10
11
11
9
10
10
11
15
13
15
13
|
37
48,2
40,7
51,8
37
40,7
40,7
33,3
37
37
40,7
55,5
48,2
55,5
48,2
|
17
14
16
13
17
16
16
18
17
17
16
12
14
12
14
|
63
51,8
59,3
48,2
63
59,3
59,3
66,7
63
63
59,3
44,5
51,8
44,5
51,8
|
Tabel 5
Peningkatan kompetensi guru dalam melaksanakan pendidikan
karakter.
|
Pernyataan
|
Alternatif jawaban
|
|||
|
ADA
|
TIDAK ADA
|
|||
|
F
|
%
|
F
|
%
|
|
|
1.
Mengikuti secara aktif pelatihan
tentang pengembangan pembelajaran pendidikan karakter.
2.
Memberikan penjelasan kepada
guru lain, orang tua dan anggota masyarakat tentang pengembangan pembelajaran
pendidikan karakter.
3.
Meningkatkan pengetahuannya
dalam memahami isi mata pelajaran dan mengintegrasikan kedalamnilainilai
karakter.
4.
Meningkatkan kemampuan
pengetahuan guru untuk mengembangkan bahan
5.
Memiliki ruang kerja agar mereka
dapat menyiapkan materi pelajaran dan bertukar gagasan tentang pembelajaran
pendidikan karakter.
6.
Melaksanakan seminar atau
pembekalan terhadap pelaksanaan
pembelajaran pendidikan karakter
|
8
13
15
13
9
7
|
29,6
48,2
55,5
48,2
33,4
25,9
|
19
14
12
14
18
20
|
70,4
51,8
44,5
51,8
66,6
74,1
|
Tabel 6
Isi kurikulum yang digunakan
sekolah.
|
Pernyataan
|
Alternatif jawaban
|
|||
|
Ya
|
Tidak
|
|||
|
F
|
%
|
F
|
%
|
|
|
1.
Kurikulum memperkenankan metode
pembelajaran dan gaya belajar yang berbeda, seperti diskusi, permainan, atau
bermain peran.
2.
Isi kurikulum memuat pengalaman
sehari-hari semua peserta didik disekolah dengan menanamkan nilainilai
karakter disekolah.
3.
Kurikulum mengintegrasikan baca,
tulis, hitung dan kecakapan hidup keseluruh mata pelajaran serta nilai-nilai
karakter.
4.
Guru menggunakan lingkungan dan
sumber daya yang tersedia (mudah dan murah) untuk membantu peserta didik
dalam belajar
5.
Materi kurikulum perlu memuat
gambar, contoh dan informasi tentang berbagai hal, termasuk anak
|
12
15
15
15
15
|
44,5
55,5
55,5
55,5
55,5
|
15
12
12
12
12
|
55,5
44,5
44,5
44,5
44,5
|
|
perempuan dan laki-laki, minoritas etnis,
latar belakang sosial ekonomi yang berbeda serta anak berkebutuhan khusus.
6.
Kurikulum diadaptasikan menurut
nilai-nilai karakter yang hendak di capai
7.
Kurikulum mengembangkan sikap
seperti, saling menghormati, toleransi dan pengetahuan tentang seluruh nilai
kerakter yang harus di capai
|
15
15
|
55,5
55,5
|
12
12
|
44,5
44,5
|
Tabel 7
Cara penilaian yang digunakan
sekolah.
|
Pernyataan
|
Alternatif jawaban
|
|||
|
Ya
|
Tidak
|
|||
|
F
|
%
|
F
|
%
|
|
|
1.
Guru menggunakan jenis rapor
yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan peserta didik dan menambahkan
nilai karakter yang telah tercapai oleh peserta didik
2.
Anak belum menguasai pelajaran
pendidikan karakter mempunyai kesempatan meninjau kembali pelajarannya dan
memperbaikinya atau mendapat pengulangan penjelasan materi dan penerapan
pendidikan karakter
3.
Guru memiliki berbagai instrumen
penilaian untuk mengukur pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta didik
dan tidak hanya mengandalkan nilai ujian.
|
15
13
15
|
55,5
48,2
55,5
|
12
14
12
|
44,5
51,8
44,5
|
Tabel 8
Dukungan masyrakat tentang
pelaksanaan pendidikan karakter
|
Pernyataan
|
Alternatif jawaban
|
|||
|
ADA
|
TIDAK ADA
|
|||
|
F
|
%
|
F
|
%
|
|
|
1.
Orang tua dan masyarakat
mengetahui dan siap membantu pelaksanaan pembelajaran pendidikan karakter
dilingkungan tempat tinggal.
2.
Masyarakat membantu sekolah
untuk memberikan penyuluhankepada semua anak untuk menanamkan nilai-nilai
karakter dalam kehidupan sehari-hari.
|
9
9
|
33,4
33,4
|
18
18
|
66,6
66,6
|
|
3.Orang tua bekerja sama
dengan pihak sekolah untuk menegaskan pendidikan karakter pada peserta didik
|
12
|
44,5
|
15
|
55,5
|
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil dari
analisis data dan jawaban pertanyaan penelitian dalam hal kebijakan sekolah
terhadap pelaksanaan pendidikan karakter, menunjukkan bahwa sebagian besar guru
menjawab bahwa sekolah tidak memiliki visi dan misi mengenai pendidikan karakter. Hal ini ditunjukkan dengan bukti
yang terdapat pada profil SLB Negeri 2 Padang memiliki visi “ Mewujudkan SLB Negeri 2 Padang sebagai
sentra Pendidikan Khusus yang bermutu.”
Sedangkan SLB Negeri 2 Padang mempunyai MISI ;
1.
Mengoptimalkan pelayanan
pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus sesuai dengan potensi, minat
dan bakat individu.
2.
Mengintensifkan pendidikan
agama/akhlak mulia melalui pendekatan persuasi, rehabilitasi dan praktik
ibadah.
3.
Intensifikasi pelatihan kecakapan
hidup melalui pembinaan fisik, mental dan hubungan sosial antar pribadi,
penguasan keterampilan tertentu sesuai dengan potensi, minat dan bakat siswa.
4.
Pembinaan kemahiran keterampilan
kerja sesuai dengan potensi, minat dan bakat Anak Berkebutuhan Khusus dengan
alternatif pilihan karir.
5.
Mengembangkan ICT untuk
inovasi-inovasi pendidikan khusus ditingkat sekolah dan wilayah melalui
kerjasama kemitraan.
6.
Memperluas jangkauan layanan
Pendidikan Khusus bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Kota Padang dengan
penyediaan layanan alternatif.
Dalam hal sosialisasi,
sebagian besar guru disekolah SLBN 2 Padang tidak melakukan sosialisasi kepada
orang tua yang menekankan bahwa anak-anak harus dikembangkan pendidikan
karakternya disekolah maupun dirumah, hal ini belum berjalan dengan maksimal.
Dalam hal dokumen penting
yang dimiliki sekolah dan data daftar hambatan yang dialami sekolah untuk
mengembangkan pendidikan karakter dalam pembelajaran menunjukkan bahwa belum
maksimalnya administrasi disekolah yang menjalankan pendidikan karakter. Dalam
hal kebijakan lain seperti menyadari dan mengubah kebijakan sekolah dalam hal
pembiayaan dan jadwal harian dalam memperoleh pendidikan yang berkualitas baru
sebagian besar guru tidak menyadarinya dan kebijakan kepala sekolah yang
memberikan keleluasaan kepada guru untuk menggunakan metode pembelajaran yang
kreatif serta inovatif untuk peserta didik sudah berjalan dengan baik, dan
sudah sebagian besar guru yang menjalankannya.
Dalam hal hubungan
sekolah dengan masyarakat serta memiliki mekanisme pendukung, supervisi dan
monitoringdidalam pendidikan karakter sudah berjalan cukup baik tetapi belum
maksimal, karna sebagian besar guru tidak
mempunyai dan menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat untuk
bertukar gagasan mengenai perubahan yang positif dalam menerapkan pendidikan
karakter dan telah memiliki monitoring serta pihakpihak yang mendukung jalannya
pendidikan karakter.
Dalam hal kondisi
lingkungan sekolah dalam mendukung jalannya pelaksanaan pembelajaran pendidikan
karakter terlihat dari hasil analisis data dan jawaban pertanyaan penelitian
bahwa sebagian besar disekolah memiliki lingkungan yang bersih dan sehat dan
sekolah pun juga telah memiliki fasilitas yang memenuhi kebutuhan peserta didik
untuk mengembangkan pendidikan karakter seperti tempat berwuduk dan mushalla,
memiliki tata cara dan prosedur untuk membantu para guru dan staf pengajar,
orang tua dan anak untuk bekerja sama dalam mengembangkan pendidikan karakter,
begitu juga dengan staf pengajar seperti guru agama demi pencapaian nilai-nilai
kareligiusan peserta didik.
Namun dalam hal
penyediaan kantin kejujuran disekolah belum berjalan dengan baik, karena
disekolah masih menyediakan kantin yang memiliki petugas penjualan, karena
peserta didik masih banyak yang melakukan kecurangan pada saat berbelanja
dikantin dan masih banyak diantara peserta didik yang belum mamiliki kejujuran
dan dapat dipercaya. Dengan demikian peserta didik masih belum diberi
kepercayaan untuk menjalankan kantin kejujuran disekolah tersebut. Pada umumnya
guru-guru banyak yang belum mengerti dengan konsep pendidikan karakter. Semua
ini bisa dilihat pada Lampiran III contoh RPP yang biasa digunakan pleh
guru-guru.
Kompetensi guru dalam
melaksanakan pembelajaran pendidikan karakter.
Dari hasil analisi data
dapat ditafsirkan bahwa kompetensi guru dalam melaksanakan pendidikan karakter
di sekolah belum berjalan dengan baik, karena sebagian besar guru tidak
mendapatkan pelatihan dan mengikuti seminar dan pembekalan tentang pengembangan
pembelajaran pendidikan karakter. Kurikulum yang digunakan dalam
penyelenggaraan pendidikan karakter pada dasarnya menggunakan kurikulum yang
berlaku disekolah umum, yaitu KTSP. Namun dalam pelaksanaannya pada
pembelajaran pendidikan karakter perlu pengintegrasian nilai-nilai karakter
kedalam kurikulum yang digunakan, Penilaian yang digunakan disekolah.
Dari hasil analisis data
menunjukkan bahwa penilaian yang digunakan disekolah sebagian besar guru
tidak melaksanakan penilaian yang sesuai
dengan pelaksanaan pendidikan karakter. Penyelenggaraan pendidikan karakter
tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.
PENUTUP
a.
Kesimpulan
Dari
hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa sebagian besar sekolah tidak memiliki
kebijakan dan administrasi mengenai pendidikan karakter, sebagian besar sekolah
yang memiliki lingkungan yang mendukung penyelenggaraan pendidikan karakter,
sebagian besar guru tidak memiliki pengetahuan dan sikap yang baik dalam
pendidikan karakter, sebagian besar guru tidak memiliki kompetensi yang baik,
sebagian besar sekolah telah menggunakan kurikulum dan sebagian besar guru
belum menggunakan penilaian yang cocok bagi pendidikan karakter dan sebagian
besar masyarakat belum mendukung jalannya pendidikan karakter.
b.
Saran
Agar pelaksanaan
pendidikan karakter disekolah bisa maksimal kurikulum yang digunakan disekolah
harus diintegrasikan kedalam nilai-nilai karakter dan penilaian pada
pelaksanaannya juga harus mengacu kepada penilaian nilai-nilai karakter yang
telah dikuasai oleh peserta didik, dan untuk menunjang keberhasilan yang lebih
optimal dibutuhkan kerjasama dari pihak orang tua dan masyarakat agar mendukung
pelaksanaan pendidikan karakter dilingkungan tempat tinggal.
DAFTAR PUSTAKA
Buchori, Mochtar.
(2007). Pendidikan Karakter dan
Kepemimpinan Kita. Dikutip dari
www.tempointeraktif.com/hg/kolom/…/kol,20110201-315,id.html diakses hari minggu 10 April 2011 pukul 18.50 WIB.
Lickona, Thomas.
(1991). EducatingforCharacter. New York: Bantam Books.
(1992). EducatingforCharacter, How Our School Can
TeachRespectandResponsibility. New York :Bantam Books.
Muslich, Masnur. (2011). Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi
Aksara.
Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia, (2002). Undang-undang
Dasar 1945. Jakarta:
Penabur Ilmu.
Sugiyono, (2007). Memahami penelitian Kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Tarmansyah, dkk. 2012. Pedoman Pengembangan Pendidikan Karakter Di
Sekolah Inklusif. Padang: Direktorat
Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus
(PK-LK) Direktorat Pendidikan Dasar.
UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional.
Komentar
Posting Komentar